Ditulis oleh: Anne Ahira untuk kita semua!
Perbedaan adalah anugrah dari Yang Maha Kuasa.
Lihatlah sekeliling kita, indahnya warna-warni bunga, warna-warni satwa, dan segala keragaman lain yang menghiasi dunia. Bayangkan kalau kita hanya mengenal warna hitam saja! Alangkah gelapnya dunia ini! :-)
Tanpa adanya perbedaan dan warna-warni, kita tidak akan merasakan hidup semeriah dan seindah sekarang ini, betul?! :-)
Begitu pun dengan kehidupan, setiap insan selalu berhadapan dengan segala macam perbedaan dan warna-warni kehidupan. Tapi sayang, tidak semua orang mampu melihat perbedaan sebagai kekayaan. Banyak orang merasa tersiksa karena perbedaan alias mereka tidak mampu menikmatinya.
Berbagai bentuk kejahatan dimulai hanya karena perbedaan. Entah itu perbedaan warna kulit, agama, suku bangsa, prinsip, atau sekadar pendapat.
Sebenarnya, perbedaan bukanlah sesuatu yang bisa dihindari. Setiap orang lahir dengan perbedaan dan keunikannya masing-masing. Mulai dari perbedaan fisik, pola pikir, kesenangan, dan lain-lain.
Tidaklah mungkin segala sesuatu hal sama. Bahkan kesamaan pun sebenarnya tidak selalu menguntungkan.
Coba bayangkan, seandainya semua orang memiliki kemampuan memimpin, lantas siapa yang mau dipimpin? Kalau semua orang menjadi orang tua, siapa yang mau jadi anak? Siapa juga yang akan menerima sedekah, jika semua orang ditakdirkan kaya?
Perbedaan ada bukan untuk dijadikan alat perpecahan. Banyak hal positif yang bisa kita peroleh dengan perbedaan. Namun, tentu saja semua itu harus bersyarat. Nah, syarat apa saja yang harus dipenuhi?
Berikut di antaranya...
1. Cara pandang kita terhadap perbedaan.
Berpikirlah positif dengan mensyukuri adanya perbedaan. Anggaplah perbedaan sebagai kekayaan. Cara pandang yang benar akan melahirkan sikap yang tepat. Ada baiknya kita mencari persamaan terlebih dahulu, sebelum mencari perbedaan.
2. Kelola perbedaan sebaik mungkin.
Musyawarah untuk mencapai kesepakatan adalah jalan yang tepat untuk mengelola perbedaan. Berlatihlah untuk menghargai, menerima, menjalankan dan bertanggungjawab terhadap keputusan bersama, meski berlawanan dengan ide awal kita.
3. Selalu posisikan segala sesuatu pada tempatnya.
Saat bekerja sama dengan orang lain, salurkan potensi, karakter, minat yang berbeda-beda pada posisi 'yang tepat'. Cara ini akan mendorong tercapainya tujuan bersama dan mendukung pengembangan potensi masing-masing individu.
4. Jangan pernah meremehkan orang lain.
Apapun dan bagaimana pun kondisi atau pendapat orang lain, perlakukan mereka selayaknya diri kita ingin diperlakukan. Anggaplah semua orang penting. Mereka memiliki peran tersendiri, yg bisa jadi tidak bisa digantikan oleh orang lain.
5. Jangan menonjolkan diri atau sombong.
Merasa diri paling penting dan lebih baik daripada orang lain *tidak akan* menambah nilai lebih bagi kita. Toh kita tidak bisa hidup tanpa orang lain. Jadilah beton dalam bangunan. Meski tidak nampak, namun sesungguhnya ialah yang menjadi penyangga kokohnya sebuah bangunan. :-)
6. Cari sumber informasi yang terjamin kebenarannya.
Perbedaan bisa muncul karena informasi yang salah. Oleh sebab itu, pastikan sumber informasi kita bisa terjamin dan dapat dipercaya kebenarannya. Lebih bagus lagi jika disertai bukti yang mendukung.
7. Koreksi diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain.
Menyalahkan orang lain terus menerus tidak akan banyak membantu kita. Bisa jadi kesalahan sebenarnya terletak pada diri kita. Karenanya, koreksi diri sendiri terlebih dahulu merupakan langkah yang paling bijaksana.
So, berhentilah menyesalkan perbedaan. Karena jika tidak, kita akan kehilangan sumber kebahagiaan! :-)
Sukses selalu untuk Kita semua! ^_^
http://www.AsianBrain.com
Selamat datang teman-temanku di ruang blog saya yang sederhana ini. Semoga dapat memberi manfaat dan inspirasi ya bagi kita semua. 'N jangan lupa ya tinggalkan kritik, saran, serta pesan dan kesannya...
26 September, 2009
28 Agustus, 2009
10 hal yang mendatangkan cinta Allah
Semoga kita senantiasa mendapatkan kecintaan Allah, itulah yang seharusnya dicari setiap hamba dalam setiap detak jantung dan setiap nafasnya.
Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin.
Saudaraku, sungguh setiap orang pasti ingin mendapatkan kecintaan Allah. Lalu bagaimanakah cara cara untuk mendapatkan kecintaan tersebut. Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa hal untuk mendapatkan maksud tadi dalam kitab beliau Madarijus Salikin.
Pertama, membaca Al Qur’an dengan merenungi dan memahami maknanya. Hal ini bisa dilakukan sebagaimana seseorang memahami sebuah buku yaitu dia menghafal dan harus mendapat penjelasan terhadap isi buku tersebut. Ini semua dilakukan untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh si penulis buku. [Maka begitu pula yang dapat dilakukan terhadap Al Qur’an, pen]
Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan ibadah yang sunnah, setelah mengerjakan ibadah yang wajib. Dengan inilah seseorang akan mencapai tingkat yang lebih mulia yaitu menjadi orang yang mendapatkan kecintaan Allah dan bukan hanya sekedar menjadi seorang pecinta.
Ketiga, terus-menerus mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik dengan hati dan lisan atau dengan amalan dan keadaan dirinya. Ingatlah, kecintaan pada Allah akan diperoleh sekadar dengan keadaan dzikir kepada-Nya.
Keempat, lebih mendahulukan kecintaan pada Allah daripada kecintaan pada dirinya sendiri ketika dia dikuasai hawa nafsunya. Begitu pula dia selalu ingin meningkatkan kecintaan kepada-Nya, walaupun harus menempuh berbagai kesulitan.
Kelima, merenungi, memperhatikan dan mengenal kebesaran nama dan sifat Allah. Begitu pula hatinya selalu berusaha memikirkan nama dan sifat Allah tersebut berulang kali. Barangsiapa mengenal Allah dengan benar melalui nama, sifat dan perbuatan-Nya, maka dia pasti mencintai Allah. Oleh karena itu, mu’athilah, fir’auniyah, jahmiyah (yang kesemuanya keliru dalam memahami nama dan sifat Allah), jalan mereka dalam mengenal Allah telah terputus (karena mereka menolak nama dan sifat Allah tersebut).
Keenam, memperhatikan kebaikan, nikmat dan karunia Allah yang telah Dia berikan kepada kita, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah faktor yang mendorong untuk mencintai-Nya.
Ketujuh, -inilah yang begitu istimewa- yaitu menghadirkan hati secara keseluruhan tatkala melakukan ketaatan kepada Allah dengan merenungkan makna yang terkandung di dalamnya.
Kedelapan, menyendiri dengan Allah di saat Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir untuk beribadah dan bermunajat kepada-Nya serta membaca kalam-Nya (Al Qur’an). Kemudian mengakhirinya dengan istighfar dan taubat kepada-Nya.
Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang mencintai Allah dan bersama para shidiqin. Kemudian memetik perkataan mereka yang seperti buah yang begitu nikmat. Kemudian dia pun tidaklah mengeluarkan kata-kata kecuali apabila jelas maslahatnya dan diketahui bahwa dengan perkataan tersebut akan menambah kemanfaatan baginya dan juga bagi orang lain.
Kesepuluh, menjauhi segala sebab yang dapat mengahalangi antara dirinya dan Allah Ta’ala.
Semoga kita senantiasa mendapatkan kecintaan Allah, itulah yang seharusnya dicari setiap hamba dalam setiap detak jantung dan setiap nafasnya. Ibnul Qayyim mengatakan bahwa kunci untuk mendapatkan itu semua adalah dengan mempersiapkan jiwa (hati) dan membuka mata hati.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallalahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Sumber: Madaarijus Saalikin, 3/ 16-17, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Darul Hadits Al Qohiroh
***
Selesai disusun selepas shalat shubuh, 6 Jumadits Tsani 1430 H, di rumah mertua tercinta, Panggang-Gunung Kidul
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com
Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin.
Saudaraku, sungguh setiap orang pasti ingin mendapatkan kecintaan Allah. Lalu bagaimanakah cara cara untuk mendapatkan kecintaan tersebut. Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa hal untuk mendapatkan maksud tadi dalam kitab beliau Madarijus Salikin.
Pertama, membaca Al Qur’an dengan merenungi dan memahami maknanya. Hal ini bisa dilakukan sebagaimana seseorang memahami sebuah buku yaitu dia menghafal dan harus mendapat penjelasan terhadap isi buku tersebut. Ini semua dilakukan untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh si penulis buku. [Maka begitu pula yang dapat dilakukan terhadap Al Qur’an, pen]
Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan ibadah yang sunnah, setelah mengerjakan ibadah yang wajib. Dengan inilah seseorang akan mencapai tingkat yang lebih mulia yaitu menjadi orang yang mendapatkan kecintaan Allah dan bukan hanya sekedar menjadi seorang pecinta.
Ketiga, terus-menerus mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik dengan hati dan lisan atau dengan amalan dan keadaan dirinya. Ingatlah, kecintaan pada Allah akan diperoleh sekadar dengan keadaan dzikir kepada-Nya.
Keempat, lebih mendahulukan kecintaan pada Allah daripada kecintaan pada dirinya sendiri ketika dia dikuasai hawa nafsunya. Begitu pula dia selalu ingin meningkatkan kecintaan kepada-Nya, walaupun harus menempuh berbagai kesulitan.
Kelima, merenungi, memperhatikan dan mengenal kebesaran nama dan sifat Allah. Begitu pula hatinya selalu berusaha memikirkan nama dan sifat Allah tersebut berulang kali. Barangsiapa mengenal Allah dengan benar melalui nama, sifat dan perbuatan-Nya, maka dia pasti mencintai Allah. Oleh karena itu, mu’athilah, fir’auniyah, jahmiyah (yang kesemuanya keliru dalam memahami nama dan sifat Allah), jalan mereka dalam mengenal Allah telah terputus (karena mereka menolak nama dan sifat Allah tersebut).
Keenam, memperhatikan kebaikan, nikmat dan karunia Allah yang telah Dia berikan kepada kita, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah faktor yang mendorong untuk mencintai-Nya.
Ketujuh, -inilah yang begitu istimewa- yaitu menghadirkan hati secara keseluruhan tatkala melakukan ketaatan kepada Allah dengan merenungkan makna yang terkandung di dalamnya.
Kedelapan, menyendiri dengan Allah di saat Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir untuk beribadah dan bermunajat kepada-Nya serta membaca kalam-Nya (Al Qur’an). Kemudian mengakhirinya dengan istighfar dan taubat kepada-Nya.
Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang mencintai Allah dan bersama para shidiqin. Kemudian memetik perkataan mereka yang seperti buah yang begitu nikmat. Kemudian dia pun tidaklah mengeluarkan kata-kata kecuali apabila jelas maslahatnya dan diketahui bahwa dengan perkataan tersebut akan menambah kemanfaatan baginya dan juga bagi orang lain.
Kesepuluh, menjauhi segala sebab yang dapat mengahalangi antara dirinya dan Allah Ta’ala.
Semoga kita senantiasa mendapatkan kecintaan Allah, itulah yang seharusnya dicari setiap hamba dalam setiap detak jantung dan setiap nafasnya. Ibnul Qayyim mengatakan bahwa kunci untuk mendapatkan itu semua adalah dengan mempersiapkan jiwa (hati) dan membuka mata hati.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallalahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Sumber: Madaarijus Saalikin, 3/ 16-17, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Darul Hadits Al Qohiroh
***
Selesai disusun selepas shalat shubuh, 6 Jumadits Tsani 1430 H, di rumah mertua tercinta, Panggang-Gunung Kidul
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com
23 Agustus, 2009
6 Hal Yang Diperlukan Untuk Melangkah dari Karyawan Menjadi Pengusaha
Banyak orang yang terkena perampingan, diberhentikan, atau dipecat. Dan karena keadaan ekonomi, mendapatkan pekerjaan baru bukanlah hal yang mudah. Menciptakan pekerjaan anda sendiri dengan mulai membuka usaha memang menarik ketika anda tidak mendapatkan pekerjaan - atau tidak betah dengan pekerjaan yang ada sekarang.
Tapi "Bagaimana memulai wirausaha?" bukanlah pertanyaan pertama yang harus anda ajukan jika anda dalam situasi ini; pertanyaan pertama yang seharusnya ditanyakan adalah "Haruskan saya berwirausaha?" Sebelum anda mulai memikirkan jenis bisnis yang akan anda kerjakan, anda harus melakukan beberapa pemikiran tentang diri anda.
Tidak semua orang bisa memulai usaha.
Menjadi wirausahawan sangat berbeda dengan karyawan.
Dan beberapa orang merasa tidak mungkin menyesuaikan perbedaan-perbedaan tersebut.
Mari kita lihat jika anda memiliki mindset pengusaha yang diperlukan.
1. Anda harus fleksibel jika berwirausaha.
Jika anda mulai berbisnis, anda tidak lagi memiliki "sebuah" pekerjaan dengan kewajiban dan tanggung jawab yang telah jelas. Secara tiba-tiba anda memiliki tugas ganda, yang sering terganggu dengan adanya krisis yang tidak terduga (khususnya dalam fase awal). Hari-hari karyawan biasanya diisi dengan aktivitas yang dapat diprediksi; sedangkan pengusaha tidak.
Dan ketika anda memulai usaha, tidak ada orang yang didelegasikan. Sebagai karyawan, anda terbiasa melimpahkan masalah ke bagian diatas anda atau tidak terlibat dalam pengambilan keputusan. Sebagai seorang pemilik usaha, anda adalah orang yang akan berhadapan dengan krisis apapun dan memecahkan masalah. Anda adalah orang yang harus membuat keputusan.
2. Anda harus menjadi pemrakarsa motivasi diri.
Ketika anda menjadi karyawan, orang lain yang menyuruh anda melakukan sesuatu, baik secara langsung ataupun tidak. Anda terbiasa melakukan tindakan yang diarahkan oleh orang lain. Namun, sebagai pemilik usaha, anda harus mengarahkan tindakan anda sendiri. Anda tidak bisa hanya duduk dan berharap klien akan datang atau tiba-tiba seseorang datang dengan membawa inventori toko anda.
Tidak ada orang yang akan memberikan pekerjaan di meja anda atau menunjukkan apa yang perlu diselesaikan. Bagi kebanyakan orang yang mencoba berwirausaha dan memulai bisnis setelah menjadi karyawan dalam waktu yang lama, ini adalah penyesuaian terberat yang dibuat.
3. Anda harus mampu mengenali peluang dan mengejarnya.
Kebanyakan karyawan melakukan apa yang ditugaskan. Ada orang lain yang "ditunjuk" untuk mencari peluang, apakah bos sebuah usaha kecil, atau mungkin departemen sales atau tim manajerial di sebuah perusahaan besar. Jika anda memulai usaha, anda harus menjadi seseorang yang secara konstan melihat peluang dan mampu mengenalinya. Mungkin hanya peluang kecil, seperti kesempatan menjemput klien baru, atau yang besar, seperti menempatkan produk anda di rak grosir terbesar, namun sebagai pemilik usaha kecil anda harus tetap mengamati masadepan dan posisi diri anda untuk mendapatkan keuntungan dari peluang yang didapatkan. Sebagai karyawan, mungkin anda terbiasa dengan posisi "kepala menunduk"; jika menjadi pengusaha yang berhasil, anda perlu melakukan posisi "kepala kedepan".
Menjadi pengusaha sangat berbeda dengan karyawan dan akan menjadi transisi yang sulit.
4. Ketika anda berwira usaha, anda harus mampu membuat rencana.
Pekerjaan terakhir anda mungkin tidak melibatkan perencanaan sama sekali, karena orang lain yang melakukannya. Atau mungkin membuat perencanaan ditingkat lokal, seperti perencanaan proyek tertentu. Jika ingin mulai usaha, anda perlu mengembangkan keahlian dalam perencanaan baik jangka pendek dan jangka panjang; yang akan menjadi bagian besar dalam diri anda.
Ketika anda mulai usaha, salah satu tugas anda adalah bekerja dengan business plan. Saat bisnis anda berjalan, anda akan menemukan perencanaan ini (sedetil apapun) perlu direvisi dan rencana lain perlu dibuat, karena anda bekerja dengan sasaran jangka panjang yang anda tetapkan untuk bisnis anda. Dari mengikuti rencana orang lain sebagai karyawan, anda harus belajar bagaimana menciptakan rencana bagi diri anda sendiri dan mengadaptasi rencana di lingkungan yang berubah.
5. Anda perlu mempersiapkan diri untuk masuk kedalam upaya yang konstan dan konsisten.
Kita semua telah melihat karyawan yang hanya bergerak, atau mereka yang hanya "menghabiskan waktu" sampai pensiun. Anda tidak perlu menjadi rekan kerja untuk tahu siapa saja orang ini. Sebagai seorang konsumen atau klien, anda dapat mengetahuinya. Memulai usaha memerlukan energi dan anda harus mampu memberikannya 100 persen. Konsumen atau klien anda harus tahu jika anda mengeluarkan bakat, ketrampilan, atau perhatian secara maksimal untuk mereka - dan mereka akan mencari ke tempat lain jika tidak mendapatkannya dari anda.
Yang lebih parah, anda perlu memberikan upaya yang konstan dan konsisten tanpa jaring pengaman karyawan. Banyak karyawan yang biasanya "sakit" dan ada orang lain yang menangani pekerjaannya, misalnya. Sebagai pengusaha, anda harus melakukannya sendiri dan memberikan upaya yang terbaik jika anda tidak memiliki karyawan yang dapat melakukannya. Anda juga mengucapkan selamat tinggal pada hari libur yang biasanya dinikmati karyawan, setidaknya sampai bisnis anda pada titik mapan, sehingga anda dapat mengatur waktu anda.
6. Harus mampu menghadapi ketidakpastian.
Sebagai seorang pengusaha, tidak ada jaminan produk atau layanan yang anda tawarkan masih diperlukan dalam waktu 6 bulan mendatang. Tidak ada jaminan bahwa konsumen anda akan membayar tagihan tepat waktu atau melunasinya. Tidak ada jaminan klien besar anda, yang nampaknya senang dengan kerja anda, tidak akan meninggalkan anda minggu depan. Tidak ada jaminan anda akan menghasilkan income bulan ini atau setelahnya. Bagi kebanyakan mantan karyawan yang terbiasa menerima gaji secara teratur, ketidakpastian ini menjadi hal yang sulit dihadapi.
Apakah anda masih bertanya-tanya, "Bagaimana saya harus memulai bisnis?" Bagus! karena inti dari artikel ini bukanlah menakut-nakuti anda, namun menyadarkan anda bagaiamana seharusnya menyesuaikan kembali pemikiran anda untuk melakukan transisi dari karyawan ke pengusaha.
Semoga setelah anda membaca list yang diperlukan untuk menjadi pengusaha sukses, anda berkata pada diri anda sendiri, "Saya dapat melakukannya". Karena setiap orang dengan ciri yang ada disini adalah sikap atau perilaku yang dapat dipelajari.
Sekarang anda tahu jenis orang seperti apa yang dapat menjalankan bisnis dan berhasil, kemana anda pergi setelah ini?
Oleh: Susan Ward
Tapi "Bagaimana memulai wirausaha?" bukanlah pertanyaan pertama yang harus anda ajukan jika anda dalam situasi ini; pertanyaan pertama yang seharusnya ditanyakan adalah "Haruskan saya berwirausaha?" Sebelum anda mulai memikirkan jenis bisnis yang akan anda kerjakan, anda harus melakukan beberapa pemikiran tentang diri anda.
Tidak semua orang bisa memulai usaha.
Menjadi wirausahawan sangat berbeda dengan karyawan.
Dan beberapa orang merasa tidak mungkin menyesuaikan perbedaan-perbedaan tersebut.
Mari kita lihat jika anda memiliki mindset pengusaha yang diperlukan.
1. Anda harus fleksibel jika berwirausaha.
Jika anda mulai berbisnis, anda tidak lagi memiliki "sebuah" pekerjaan dengan kewajiban dan tanggung jawab yang telah jelas. Secara tiba-tiba anda memiliki tugas ganda, yang sering terganggu dengan adanya krisis yang tidak terduga (khususnya dalam fase awal). Hari-hari karyawan biasanya diisi dengan aktivitas yang dapat diprediksi; sedangkan pengusaha tidak.
Dan ketika anda memulai usaha, tidak ada orang yang didelegasikan. Sebagai karyawan, anda terbiasa melimpahkan masalah ke bagian diatas anda atau tidak terlibat dalam pengambilan keputusan. Sebagai seorang pemilik usaha, anda adalah orang yang akan berhadapan dengan krisis apapun dan memecahkan masalah. Anda adalah orang yang harus membuat keputusan.
2. Anda harus menjadi pemrakarsa motivasi diri.
Ketika anda menjadi karyawan, orang lain yang menyuruh anda melakukan sesuatu, baik secara langsung ataupun tidak. Anda terbiasa melakukan tindakan yang diarahkan oleh orang lain. Namun, sebagai pemilik usaha, anda harus mengarahkan tindakan anda sendiri. Anda tidak bisa hanya duduk dan berharap klien akan datang atau tiba-tiba seseorang datang dengan membawa inventori toko anda.
Tidak ada orang yang akan memberikan pekerjaan di meja anda atau menunjukkan apa yang perlu diselesaikan. Bagi kebanyakan orang yang mencoba berwirausaha dan memulai bisnis setelah menjadi karyawan dalam waktu yang lama, ini adalah penyesuaian terberat yang dibuat.
3. Anda harus mampu mengenali peluang dan mengejarnya.
Kebanyakan karyawan melakukan apa yang ditugaskan. Ada orang lain yang "ditunjuk" untuk mencari peluang, apakah bos sebuah usaha kecil, atau mungkin departemen sales atau tim manajerial di sebuah perusahaan besar. Jika anda memulai usaha, anda harus menjadi seseorang yang secara konstan melihat peluang dan mampu mengenalinya. Mungkin hanya peluang kecil, seperti kesempatan menjemput klien baru, atau yang besar, seperti menempatkan produk anda di rak grosir terbesar, namun sebagai pemilik usaha kecil anda harus tetap mengamati masadepan dan posisi diri anda untuk mendapatkan keuntungan dari peluang yang didapatkan. Sebagai karyawan, mungkin anda terbiasa dengan posisi "kepala menunduk"; jika menjadi pengusaha yang berhasil, anda perlu melakukan posisi "kepala kedepan".
Menjadi pengusaha sangat berbeda dengan karyawan dan akan menjadi transisi yang sulit.
4. Ketika anda berwira usaha, anda harus mampu membuat rencana.
Pekerjaan terakhir anda mungkin tidak melibatkan perencanaan sama sekali, karena orang lain yang melakukannya. Atau mungkin membuat perencanaan ditingkat lokal, seperti perencanaan proyek tertentu. Jika ingin mulai usaha, anda perlu mengembangkan keahlian dalam perencanaan baik jangka pendek dan jangka panjang; yang akan menjadi bagian besar dalam diri anda.
Ketika anda mulai usaha, salah satu tugas anda adalah bekerja dengan business plan. Saat bisnis anda berjalan, anda akan menemukan perencanaan ini (sedetil apapun) perlu direvisi dan rencana lain perlu dibuat, karena anda bekerja dengan sasaran jangka panjang yang anda tetapkan untuk bisnis anda. Dari mengikuti rencana orang lain sebagai karyawan, anda harus belajar bagaimana menciptakan rencana bagi diri anda sendiri dan mengadaptasi rencana di lingkungan yang berubah.
5. Anda perlu mempersiapkan diri untuk masuk kedalam upaya yang konstan dan konsisten.
Kita semua telah melihat karyawan yang hanya bergerak, atau mereka yang hanya "menghabiskan waktu" sampai pensiun. Anda tidak perlu menjadi rekan kerja untuk tahu siapa saja orang ini. Sebagai seorang konsumen atau klien, anda dapat mengetahuinya. Memulai usaha memerlukan energi dan anda harus mampu memberikannya 100 persen. Konsumen atau klien anda harus tahu jika anda mengeluarkan bakat, ketrampilan, atau perhatian secara maksimal untuk mereka - dan mereka akan mencari ke tempat lain jika tidak mendapatkannya dari anda.
Yang lebih parah, anda perlu memberikan upaya yang konstan dan konsisten tanpa jaring pengaman karyawan. Banyak karyawan yang biasanya "sakit" dan ada orang lain yang menangani pekerjaannya, misalnya. Sebagai pengusaha, anda harus melakukannya sendiri dan memberikan upaya yang terbaik jika anda tidak memiliki karyawan yang dapat melakukannya. Anda juga mengucapkan selamat tinggal pada hari libur yang biasanya dinikmati karyawan, setidaknya sampai bisnis anda pada titik mapan, sehingga anda dapat mengatur waktu anda.
6. Harus mampu menghadapi ketidakpastian.
Sebagai seorang pengusaha, tidak ada jaminan produk atau layanan yang anda tawarkan masih diperlukan dalam waktu 6 bulan mendatang. Tidak ada jaminan bahwa konsumen anda akan membayar tagihan tepat waktu atau melunasinya. Tidak ada jaminan klien besar anda, yang nampaknya senang dengan kerja anda, tidak akan meninggalkan anda minggu depan. Tidak ada jaminan anda akan menghasilkan income bulan ini atau setelahnya. Bagi kebanyakan mantan karyawan yang terbiasa menerima gaji secara teratur, ketidakpastian ini menjadi hal yang sulit dihadapi.
Apakah anda masih bertanya-tanya, "Bagaimana saya harus memulai bisnis?" Bagus! karena inti dari artikel ini bukanlah menakut-nakuti anda, namun menyadarkan anda bagaiamana seharusnya menyesuaikan kembali pemikiran anda untuk melakukan transisi dari karyawan ke pengusaha.
Semoga setelah anda membaca list yang diperlukan untuk menjadi pengusaha sukses, anda berkata pada diri anda sendiri, "Saya dapat melakukannya". Karena setiap orang dengan ciri yang ada disini adalah sikap atau perilaku yang dapat dipelajari.
Sekarang anda tahu jenis orang seperti apa yang dapat menjalankan bisnis dan berhasil, kemana anda pergi setelah ini?
Oleh: Susan Ward
Rahasia Memulai Bisnis Tanpa Modal
Menjadi pertanyaan, mungkinkah memulai bisnis tanpa modal? Mungkin saja! Anda hanya perlu rahasianya. Sudah banyak orang sukses berbisnis tanpa modal berupa cash money yang besar. Sebut saja Purdi E. Chandra dengan jaringan Primagamanya. Purdi hanya mengandalkan kemampuan melobinya, sekaligus kecerdikan untuk memulai usaha. Anda pun bisa melakukannya!
Rahasia #1: Lakukan bisnis jasa
Saat mencari ide usaha, Anda dapat memilih: menjual barang atau jasa. Menjual barang memerlukan banyak modal. Anda perlu membeli barang lebih dulu dan kemudian dijual kembali. Contohnya pada bisnis ritel, membuat toko kelontong, grosiran sembako. Atau memproduksi barang dulu baru lalu menjualnya, seperti usaha roti, konveksi garmen. Belum lagi kalau barang tidak laku. Berapa modal yang tak kembali? Berbeda dengan bisnis jasa. Anda benar-benar bisa memulai dari modal dengkul. Bisnis ini tidak membuat Anda mengeluarkan banyak biaya! Contohnya Purdi, dengan memulai bisnis bimbingan belajar. Bermula dari 2 siswa dan menempati salah satu ruang rumah kontrakannya, siapa mengira kalau bisnis ini bisa berkembang menggurita.
Rahasia #2: Hemat Biaya
Anda tidak ingin menghabiskan banyak uang, bukan? Karena itu, jaga agar pengeluaran Anda sedikit. Cara terbaik untuk menjaga overhead tetap rendah adalah memulai bisnis dari rumah. Anda bisa menghemat biaya untuk sewa kantor, membayar resepsionis, membayar pajak, izin usaha, dan lain-lain. Jangan berasumsi kalau bisnis rumahan hanya kacangan. Banyak bisnis raksasa dimulai dari rumah: Amazon.com, Microsoft, Xeroc, The Body Shop, Martha Tilaar.
Rahasia #3: Jangan masukkan semua telur dalam satu keranjang
Anda mungkin sudah bekerja sebagai karyawan, saat memutuskan untuk berwirausaha. Mundur dari pekerjaan saat mengawali usaha dari nol mungkin kurang bijaksana. Anda kehilangan sumber penghasilan, sementara usaha Anda belum memberikan hasil yang nyata. Karena itu, pertahankan pekerjaan sembari Anda memulai usaha, Mulailah bisnis paruh waktu. Bila kemudian usaha Anda tampak berkembang, Anda boleh melepaskan pekerjaan sebagai karyawan.
Rahasia #4: Lihat kebutuhan pasar
Ini adalah aturan utama bisnis. Anda harus menawarkan jasa yang dibutuhkan oleh banyak orang dan mereka bersedia membayarnya. Membuat usaha jasa memotong rumput dan pohon, bagus, tetapi jika Anda berada di tengah kota di mana banyak rumah tanpa halaman, siapa yang akan memakai jasa Anda? Karena itu, lakukan riset pasar. Saat ini ada banyak usaha jasa yang bisa dilakukan. Anda suka menulis? Buka jasa penulisan entah biografi, web content, ghostwriter, company profile, dan sebagainya. Suka menggambar dan desain? Bikin jasa desain iklan, website, cover buku, atau ilustrator. Bahkan suka omong pun bisa dijadikan ladang usaha. Jadi presenter, misalnya. Yang jelas, pastikan ada konsumen yang membutuhkan jasa Anda.
Anda telah mengetahui rahasianya. Jika Anda melakukannya, peluang sukses Anda akan jauh lebih besar. Selamat berusaha!
Oleh: Dessy Danarti
Penulis buku "Dari Hobi menjadi Hoki" (Penerbit Andi, 2005)
Sumber: www.beritanet.com
Rahasia #1: Lakukan bisnis jasa
Saat mencari ide usaha, Anda dapat memilih: menjual barang atau jasa. Menjual barang memerlukan banyak modal. Anda perlu membeli barang lebih dulu dan kemudian dijual kembali. Contohnya pada bisnis ritel, membuat toko kelontong, grosiran sembako. Atau memproduksi barang dulu baru lalu menjualnya, seperti usaha roti, konveksi garmen. Belum lagi kalau barang tidak laku. Berapa modal yang tak kembali? Berbeda dengan bisnis jasa. Anda benar-benar bisa memulai dari modal dengkul. Bisnis ini tidak membuat Anda mengeluarkan banyak biaya! Contohnya Purdi, dengan memulai bisnis bimbingan belajar. Bermula dari 2 siswa dan menempati salah satu ruang rumah kontrakannya, siapa mengira kalau bisnis ini bisa berkembang menggurita.
Rahasia #2: Hemat Biaya
Anda tidak ingin menghabiskan banyak uang, bukan? Karena itu, jaga agar pengeluaran Anda sedikit. Cara terbaik untuk menjaga overhead tetap rendah adalah memulai bisnis dari rumah. Anda bisa menghemat biaya untuk sewa kantor, membayar resepsionis, membayar pajak, izin usaha, dan lain-lain. Jangan berasumsi kalau bisnis rumahan hanya kacangan. Banyak bisnis raksasa dimulai dari rumah: Amazon.com, Microsoft, Xeroc, The Body Shop, Martha Tilaar.
Rahasia #3: Jangan masukkan semua telur dalam satu keranjang
Anda mungkin sudah bekerja sebagai karyawan, saat memutuskan untuk berwirausaha. Mundur dari pekerjaan saat mengawali usaha dari nol mungkin kurang bijaksana. Anda kehilangan sumber penghasilan, sementara usaha Anda belum memberikan hasil yang nyata. Karena itu, pertahankan pekerjaan sembari Anda memulai usaha, Mulailah bisnis paruh waktu. Bila kemudian usaha Anda tampak berkembang, Anda boleh melepaskan pekerjaan sebagai karyawan.
Rahasia #4: Lihat kebutuhan pasar
Ini adalah aturan utama bisnis. Anda harus menawarkan jasa yang dibutuhkan oleh banyak orang dan mereka bersedia membayarnya. Membuat usaha jasa memotong rumput dan pohon, bagus, tetapi jika Anda berada di tengah kota di mana banyak rumah tanpa halaman, siapa yang akan memakai jasa Anda? Karena itu, lakukan riset pasar. Saat ini ada banyak usaha jasa yang bisa dilakukan. Anda suka menulis? Buka jasa penulisan entah biografi, web content, ghostwriter, company profile, dan sebagainya. Suka menggambar dan desain? Bikin jasa desain iklan, website, cover buku, atau ilustrator. Bahkan suka omong pun bisa dijadikan ladang usaha. Jadi presenter, misalnya. Yang jelas, pastikan ada konsumen yang membutuhkan jasa Anda.
Anda telah mengetahui rahasianya. Jika Anda melakukannya, peluang sukses Anda akan jauh lebih besar. Selamat berusaha!
Oleh: Dessy Danarti
Penulis buku "Dari Hobi menjadi Hoki" (Penerbit Andi, 2005)
Sumber: www.beritanet.com
Wirausahawan Sukses
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah, mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tiada merugi. QS Fathir {35}:29
Ada seorang pengusaha sukses di Indonesia yang memulai karirnya dengan membuka sebuah bisnis makanan dan kini telah merambah seluruh tanah air dengan puluhan outlet dan cabangnya. Dalam tempo اyang tidak terlalu lama, usaha makanan lezat yang ia rintis berkembang dengan begitu menggurita. Masyarakat pun banyak menggandrungi makanan yang disajikan oleh ‘brand’ restoran miliknya.
Suatu saat pernah, beliau menjadi sponsor utama sebuah seminar zakat yang diadakan di kota Medan. Usai menyampaikan materi seminar, para pembicara diajak untuk menikmati santap siang di salah satu restoran milik sang pengusaha.
Ketika santap makan siang berlangsung, salah seorang pembicara menyela dengan sebuah pertanyaan kepada pemilik restoran, "Pak, boleh dong berbagi cerita kiat sukses merintis bisnis kayak begini. Sepertinya bapak gak terlalu lama membangun bisnis ini tapi kok langsung menggurita sampai seluruh tanah air. Apa sih rahasianya?" Sambil tersenyum penuh rasa syukur, pengusaha ini menjawab dengan nada yakin: "Pak Ustadz, sama seperti pengusaha lain, saya merintis ini dengan jatuh-bangun. Namun, sejak saya bertekad untuk menaikan zakat saya hingga 5% dari penghasilan. Subhanallah… Allah berkenan memberikan rezeki yang melimpah kepada saya, keluarga dan semua orang yang terlibat dalam usaha ini." Ia menambahkan, "Saya amat percaya, semakin banyak kita membantu Allah, Dia pun akan lebih banyak lagi akan memberikan balasannya kepada kita. Dan itu telah kami rasakan kebenarannya!"
Allahu Akbar… Allah Maha Besar… Dia mampu untuk memberikan balasan yang begitu berkah bagi hamba-Nya yang mau berniaga kepada-Nya.
Itu cerita dari pulau Sumatera, tepatnya di kota Medan. Lain lagi kisah seorang pengusaha berkah dari Provinsi Jawa Tengah. Banyak usaha yang ia tangani. Mulai dari percetakan, penerbitan, institusi pendidikan, pelayanan haji & umrah, yayasan-yayasan social, dan banyak lagi. Bagi saya, jumlah usaha & kegiatan yang beliau tangani sulit dihitung dengan jari. Terakhir saya dengar, beliau tengah membangun sebuah hotel syariah di bilangan kota yang cukup strategis dengan biaya miliaran rupiah. Hal yang lebih membuat kagum adalah…, semua usaha yang beliau bangun berjalan dengan lancar dan memberi hasil yang tidak sedikit.
Subhanallah…, dengan keterbatasan waktu yang dimiliki, beliau amat terampil untuk mengelola semua usahanya. Saya penasaran untuk mengetahui rahasia kesuksesan di balik itu semua. Sampai pada akhirnya, salah seorang staffnya bercerita kepada saya bahwa beliau selalu menginfak-an hampir 30% dari penghasilannya di jalan Allah Swt.
Kala krisis moneter, perusahaan percetakan miliknya hampir bangkrut sama seperti usaha yang lain. Sebuah kebijakan yang ia tempuh terdengar aneh saat itu. Para karyawannya yang berjumlah ratusan, tidak ia rumahkan. Bahkan beliau tambahkan gaji mereka. Sehingga membuat karyawan tersebut senang, tidak resah dengan harga bahan pokok yang menggila pada saat itu, dan akhirnya…. mereka pun berdoa untuk kebaikan pemilik usaha. Subhanallah… siapa yang suka memberi, ia pasti akan diberi. Oleh siapa, ya… oleh Sang Maha Pemberi, Al Wahhab!
Perniagaan yang tiada merugi… itulah salah satu jaminan bagi orang yang suka berinfak.
Cobalah simak hadits 567 bab 60 dalam kitab Riyadhus ShalihinI! Di sana Nabi Saw berkisah, ada seorang petani di Madinah… ia berdiri di antara kebun kurmanya yang kering kekurangan air. Pohon tidaklah subur, sementara buah-buahan tidak muncul dengan baik. Ia khawatir, bila kekurangan air maka kebun tidak akan memberi hasil maksimal untuk kebutuhan hidup ia dan keluarga. Ia menengadah ke arah langit. Kedua tangannya, ia angkat setinggi mungkin seraya merapal lafal-lafal doa kepada Allah agar kebunnya diberi air hujan.
Tak lama sejak itu, Allah mengirimkan awan untuk berkumpul. Beriringan sedikit demi sedikit, awan berkumpul dengan cukup lebat di atas kebunnya. Sang petani tersenyum kegirangan. Dalam hatinya, ia berucap… "Allah mengabulkan doa & permintaanku tadi!" Namun sebaliknya yang terjadi. Terdengar olehnya sebuah suara yang berasal dari langit dan berbunyi, "Wahai awan, pergilah ke tanah si Fulan…!"
Maka berjalanlah awan ke arah lain, ke tempat yang tidak diketahui oleh si petani yang baru saja berdoa. Kekesalan membuncah dalam batin sang petani. "Mengapa hujan tidak jadi turun di tanahku?" gumamnya. Ia pun penasaran. Ia berlari dan terus berlari. Mengikuti kemana awan akan berhenti dan menurunkan air yang dikandungnya.
Sampai di suatu tempat yang subur… daunnya rimbun… dan memiliki air yang banyak. Awan pun berhenti dan mencurahkan segala air yang berada di dalam perutnya. Si petani menatap keheranan…, tatkala dilihatnya ada seorang pria bersahaja yang sedang berdoa syukur kepada Tuhan karena telah memberi rahmat pada tanahnya.
Saat itu, si petani memanggil nama si pemilik tanah. Sang pemilik tanah merasa heran lalu bertanya, "Saudara, dari mana Anda tahu namaku?" "Itulah saudaraku, aku sendiri ingin bertanya sebaliknya, amalan apa yang membuat usahamu begitu berkah hingga namamu ku dengar dari suara langit yang memerintahkan awan untuk menurunkan hujan di sini…, di tanahmu!" Subhanallah! Bukankah ini sebuah prestasi hebat, hingga membuat nama seseorang disebut di langit?
Si pemilik tanah mencoba menjawab pertanyaan petani, "Saudara, belum ada orang yang aku beritahukan tentang amalan yang aku kerjakan sehingga membuahkan hasil sedemikian. Namun karena engkau telah tahu sebagian rahasia ini… dan juga karena engkau telah menanyakannya, maka tak layak bagiku untuk merahasiakannya lagi." "Ceritakanlah padaku, wahai Saudara!" gegas si Petani sebab penasaran.
"Rahasianya mungkin adalah…. Setiap kali kebun dan tanah ini memberi hasil, hanya sepertiga darinya yang aku makan. Sepertiganya lagi aku kembalikan kepada tanah ini sebagai tambahan modal. Lalu sepertiganya lagi, aku berikan kepada Allah Swt sebagai infakku di jalannya. Itulah amalan rutin yang aku kerjakan sehingga membawaku pada hasil yang sedemikian."
Subhanallah….! Pemilik tanah tersebut memberikan sepertiga dari penghasilannya untuk Allah Swt. Tak pelak, Allah Swt pun memuliakannya. Saudaraku…, bila dalam merintis usaha, perniagaan, perdagangan atau apapun yang kita lakukan… bila kita sering mengalami kerugian, kebangkrutan, kredit macet dan lain sebagainya yang dapat membuat usaha kita mengalami kemunduran. Maka…, cobalah resep di atas! Insya Allah, Anda akan merasakan apa yang mereka rasakan, yaitu Perniagaan yang Tiada Merugi Disebabkan Infak di Jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selamat Mencoba!
http://fhea.wordpress.com/2008/03/02/wirausahawan-sukses/
Ada seorang pengusaha sukses di Indonesia yang memulai karirnya dengan membuka sebuah bisnis makanan dan kini telah merambah seluruh tanah air dengan puluhan outlet dan cabangnya. Dalam tempo اyang tidak terlalu lama, usaha makanan lezat yang ia rintis berkembang dengan begitu menggurita. Masyarakat pun banyak menggandrungi makanan yang disajikan oleh ‘brand’ restoran miliknya.
Suatu saat pernah, beliau menjadi sponsor utama sebuah seminar zakat yang diadakan di kota Medan. Usai menyampaikan materi seminar, para pembicara diajak untuk menikmati santap siang di salah satu restoran milik sang pengusaha.
Ketika santap makan siang berlangsung, salah seorang pembicara menyela dengan sebuah pertanyaan kepada pemilik restoran, "Pak, boleh dong berbagi cerita kiat sukses merintis bisnis kayak begini. Sepertinya bapak gak terlalu lama membangun bisnis ini tapi kok langsung menggurita sampai seluruh tanah air. Apa sih rahasianya?" Sambil tersenyum penuh rasa syukur, pengusaha ini menjawab dengan nada yakin: "Pak Ustadz, sama seperti pengusaha lain, saya merintis ini dengan jatuh-bangun. Namun, sejak saya bertekad untuk menaikan zakat saya hingga 5% dari penghasilan. Subhanallah… Allah berkenan memberikan rezeki yang melimpah kepada saya, keluarga dan semua orang yang terlibat dalam usaha ini." Ia menambahkan, "Saya amat percaya, semakin banyak kita membantu Allah, Dia pun akan lebih banyak lagi akan memberikan balasannya kepada kita. Dan itu telah kami rasakan kebenarannya!"
Allahu Akbar… Allah Maha Besar… Dia mampu untuk memberikan balasan yang begitu berkah bagi hamba-Nya yang mau berniaga kepada-Nya.
Itu cerita dari pulau Sumatera, tepatnya di kota Medan. Lain lagi kisah seorang pengusaha berkah dari Provinsi Jawa Tengah. Banyak usaha yang ia tangani. Mulai dari percetakan, penerbitan, institusi pendidikan, pelayanan haji & umrah, yayasan-yayasan social, dan banyak lagi. Bagi saya, jumlah usaha & kegiatan yang beliau tangani sulit dihitung dengan jari. Terakhir saya dengar, beliau tengah membangun sebuah hotel syariah di bilangan kota yang cukup strategis dengan biaya miliaran rupiah. Hal yang lebih membuat kagum adalah…, semua usaha yang beliau bangun berjalan dengan lancar dan memberi hasil yang tidak sedikit.
Subhanallah…, dengan keterbatasan waktu yang dimiliki, beliau amat terampil untuk mengelola semua usahanya. Saya penasaran untuk mengetahui rahasia kesuksesan di balik itu semua. Sampai pada akhirnya, salah seorang staffnya bercerita kepada saya bahwa beliau selalu menginfak-an hampir 30% dari penghasilannya di jalan Allah Swt.
Kala krisis moneter, perusahaan percetakan miliknya hampir bangkrut sama seperti usaha yang lain. Sebuah kebijakan yang ia tempuh terdengar aneh saat itu. Para karyawannya yang berjumlah ratusan, tidak ia rumahkan. Bahkan beliau tambahkan gaji mereka. Sehingga membuat karyawan tersebut senang, tidak resah dengan harga bahan pokok yang menggila pada saat itu, dan akhirnya…. mereka pun berdoa untuk kebaikan pemilik usaha. Subhanallah… siapa yang suka memberi, ia pasti akan diberi. Oleh siapa, ya… oleh Sang Maha Pemberi, Al Wahhab!
Perniagaan yang tiada merugi… itulah salah satu jaminan bagi orang yang suka berinfak.
Cobalah simak hadits 567 bab 60 dalam kitab Riyadhus ShalihinI! Di sana Nabi Saw berkisah, ada seorang petani di Madinah… ia berdiri di antara kebun kurmanya yang kering kekurangan air. Pohon tidaklah subur, sementara buah-buahan tidak muncul dengan baik. Ia khawatir, bila kekurangan air maka kebun tidak akan memberi hasil maksimal untuk kebutuhan hidup ia dan keluarga. Ia menengadah ke arah langit. Kedua tangannya, ia angkat setinggi mungkin seraya merapal lafal-lafal doa kepada Allah agar kebunnya diberi air hujan.
Tak lama sejak itu, Allah mengirimkan awan untuk berkumpul. Beriringan sedikit demi sedikit, awan berkumpul dengan cukup lebat di atas kebunnya. Sang petani tersenyum kegirangan. Dalam hatinya, ia berucap… "Allah mengabulkan doa & permintaanku tadi!" Namun sebaliknya yang terjadi. Terdengar olehnya sebuah suara yang berasal dari langit dan berbunyi, "Wahai awan, pergilah ke tanah si Fulan…!"
Maka berjalanlah awan ke arah lain, ke tempat yang tidak diketahui oleh si petani yang baru saja berdoa. Kekesalan membuncah dalam batin sang petani. "Mengapa hujan tidak jadi turun di tanahku?" gumamnya. Ia pun penasaran. Ia berlari dan terus berlari. Mengikuti kemana awan akan berhenti dan menurunkan air yang dikandungnya.
Sampai di suatu tempat yang subur… daunnya rimbun… dan memiliki air yang banyak. Awan pun berhenti dan mencurahkan segala air yang berada di dalam perutnya. Si petani menatap keheranan…, tatkala dilihatnya ada seorang pria bersahaja yang sedang berdoa syukur kepada Tuhan karena telah memberi rahmat pada tanahnya.
Saat itu, si petani memanggil nama si pemilik tanah. Sang pemilik tanah merasa heran lalu bertanya, "Saudara, dari mana Anda tahu namaku?" "Itulah saudaraku, aku sendiri ingin bertanya sebaliknya, amalan apa yang membuat usahamu begitu berkah hingga namamu ku dengar dari suara langit yang memerintahkan awan untuk menurunkan hujan di sini…, di tanahmu!" Subhanallah! Bukankah ini sebuah prestasi hebat, hingga membuat nama seseorang disebut di langit?
Si pemilik tanah mencoba menjawab pertanyaan petani, "Saudara, belum ada orang yang aku beritahukan tentang amalan yang aku kerjakan sehingga membuahkan hasil sedemikian. Namun karena engkau telah tahu sebagian rahasia ini… dan juga karena engkau telah menanyakannya, maka tak layak bagiku untuk merahasiakannya lagi." "Ceritakanlah padaku, wahai Saudara!" gegas si Petani sebab penasaran.
"Rahasianya mungkin adalah…. Setiap kali kebun dan tanah ini memberi hasil, hanya sepertiga darinya yang aku makan. Sepertiganya lagi aku kembalikan kepada tanah ini sebagai tambahan modal. Lalu sepertiganya lagi, aku berikan kepada Allah Swt sebagai infakku di jalannya. Itulah amalan rutin yang aku kerjakan sehingga membawaku pada hasil yang sedemikian."
Subhanallah….! Pemilik tanah tersebut memberikan sepertiga dari penghasilannya untuk Allah Swt. Tak pelak, Allah Swt pun memuliakannya. Saudaraku…, bila dalam merintis usaha, perniagaan, perdagangan atau apapun yang kita lakukan… bila kita sering mengalami kerugian, kebangkrutan, kredit macet dan lain sebagainya yang dapat membuat usaha kita mengalami kemunduran. Maka…, cobalah resep di atas! Insya Allah, Anda akan merasakan apa yang mereka rasakan, yaitu Perniagaan yang Tiada Merugi Disebabkan Infak di Jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selamat Mencoba!
http://fhea.wordpress.com/2008/03/02/wirausahawan-sukses/
Langganan:
Postingan (Atom)