05 Juni, 2009

Surat Buat Ibuku Tersayang....


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Dari anakmu, buat ibuku tersayang....

Ibu, engkaulah penyejuk hati dan penghapus dahaga yang terbakar panas dunia.
Engkaulah satu-satunya manusia yang telah memberiku kelembutan kasih sayang ketika hidupku terkukung kerasnya dunia. Engkaulah orang orang yang tidak pernah menghinaku ketika manusia yang dekat dan jauh menghinaku. Engkaulah yang mengajarkanku melakukan yang baik, tetapi untuk diriku.

Duhai ibuku...
Dengan kehadiran cinta, kasih, dan sayang serta kerinduan bersemi. Dan tanpamu semua terasa gersang.

Wahai ibuku...
Engkau biarkan kepedihan menyala-nyala di antara tulang-tulang rusukmu untuk menumbuhkembangkan asa di hati anakmu.

Wahai ibuku, yang tak pernah berhenti berdoa demi kebaikan dan kebahagiaanku. Engkaulah harta simpananku yang paling berharga. Engkaulah kebahagiaanku dunia dan akhirat.

Ibuku...maafkan dan ridhoilah anakmu ini.

Semoga Allah menjagamu dan menjadikanku berbakti kepadamu. Aku senantiasa berdoa untukmu sebagaimana engkau telah mendidikku ketika kecil dan membekaliku dengan doamu.

Semoga Allah mengasihimu sebagaimana hatimu telah mencurahkan kelembutan dan kasih sayang padaku.

Wasallallahu wa sallama 'ala Nabiyyina Muhammad wa 'ala Alihi wa Ash-Sabihi Ajma'in, wal Hamdulillahi Rabbil 'Alamin

02 Juni, 2009

Istiqomah

Istiqomah, yang dalam bahasa Arab disebut Al-Istiqomah. Sedangkan dalam bahasa Indonesia biasa kita menyebutnya dengan konsisten. Istiqomah mengandung arti yaitu suatu usaha untuk memiliki keteguhan dan kekokohan dalam memegang suatu prinsip. Sikap istiqomah seseorang saling berhubungan dengan keimanan yang dimilikinya. Semakin tinggi tingkatan keimanan seseorang, maka semakin kuat keistiqomahan orang tersebut.
Bagaimana supaya kita bisa menanamkan sikap istiqomah dalam diri kita?

1. Memperhatikan tujuan yang akan dicapai. Di dalam surat Al-An'am ayat 162 disebutkan :
"Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. " (QS. Al-An'am :162)
Ayat diatas menerangkan bahwa seseorang yang selalu istiqomah harus berlandaskan hanya kepada Allah semata. Segala aktifitas ibadah yang dilakukannya semata-mata mengharapkan ridha dari Allah. Tidak ada tujuan lain yang ingin dicapai selain Allah SWT semata.

2. Memperhatikan proses yang dijalankan.
Agar kita dapat selalu istiqomah, dalam melakukan proses suatu ibadah harus merasa bahwa Allah selalu bersama dengan kita. Allah tidak mengharapkan hasil yang kita capai, walau hasil juga penting, tetapi Allah lebih menyukai proses yang kita lakukan. Kita lihat ketika Nabi Nuh AS dalam menyampaikan wahyu dari Allah SWT hanya mendapatkan beberapa pengikut. Allah tidak menuntut seberapa banyak orang yang harus menjadi pengikut Nabi Nuh AS, tetapi Allah menilai proses yang dilakukannya dalam menyampaikan wahyu kepada umatnya.
Seseorang yang selalu merasa dibersamai oleh Allah, akan terus tetap konsisten dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya.

3. Hasil akhir yang diperoleh kita kembalikan dan hanya kepada Allah.

Orang yang istiqomah akan selalu kokoh dalam akidah dan tidak goyah keimananya bersama dalam menghadapi tantangan hidup ini. Sekalipun dihadapkan pada tantangan hidup, ibadah tidak ikut redup, kantong kering atau tebal, tetap memperhatikan haram halam, dicaci dipuji, sujud pantang berhenti, sekalipun ia memiliki fasilitas, ia tidak tergoda melakukan kemaksiatan.

Keistiqomahan akan muncul dengan sendirinya apabila seseorang memiliki kriteria sebagai berikut :
a. Berprinsip hanya kepada Allah (lillahi ta'ala), loyal kepada Allah SWT.
b. Menolak segala sesuatu yang datangnya selain dari Allah SWT.
c.Adanya suatu proses pembiasaan/rutinitas.
d. Membutuhkan orang lain untuk saling mengingatkan.

Keistiqomahan letaknya di dalam hati bukan di lisan semata, karena hati merupakan penggerak bagi tubuh kita dan hati adalah suatu tempat yang berbolak-balik atau sering berubah. Seseorang yang menjalani hidup tanpa adanya sikap istiqomah akan mengalami hal-hal sebagai berikut :

* Akan mudah patah/hilang semangat dan motivasi.
* Akan cepat mengalami depresi dn stres.
* Tidak akan bisa dipercaya oleh orang lain.
* Akan mengalami kerugian dinia dan akhirat.

Demikianlah, semoga kita termasuk dalam orang-orang selalu diberikan oleh Allah sikap istiqomah agar kita dapat menjalani hidup ini dengan tegar dan tetap teguh hati.
Wallahualam bishowab.

01 Juni, 2009

Muhasabah Cinta...

Wahai pemilik nyawaku
Betapa lemah diriku ini
Berat ujian dari-Mu
Kupasrahkan semua pada-Mu

Tuhan, baru kusadar
Indah nikmat sehat itu
Tak pandai aku bersyukur
Kini kuharapkan cinta-Mu

Kata-kata cinta terucap indah
Mengalir berdzikir di kidung doaku
Sakit yang kurasa biar
Menjadi penawar dosaku

Butir-butir cinta air mata ku
Teringat semua yang Kau beri untukku
Ampuni khilaf dan salah slama ini
Ya Illahi, muhasabah cintaku

Tuhan, kuatkan aku
Lindungi aku dari putus asa
Jika ku harus mati
Pertemukan aku dengan Mu


By : Edcoustic

Simple Future Tense

Simple Future Tense adalah tenses yang digunakan untuk menunjukkan suatu aktivitas/kejadian yang akan terjadi di waktu yang akan datang.

Rumus :
A. (+) : S + Will / Shall + V1

Exp :
1. I shall go to my friend's house tomorrow.
(Saya akan pergi ke rumah teman saya besok)

2. They will study english next week.
(Mereka akan belajar Bahasa Inggris minggu depan)

3. She will teach Mathematics in my school next mounth.
(Dia akan mengajar matematika di sekolah saya bulan depan)

4. My father will repair his car soon.
(Ayah saya akan memperbaiki mobilnya segera)

5. He shall cook a cake.
(Dia akan memasak kue)


B. (-) : S + Will / Shall + not + V1

Exp :
1. I shall not go to my friend's house tomorrow.
(Saya tidak akan pergi ke rumah teman saya besok)

2. They will not study english next week.
(Mereka tidak akan belajar Bahasa Inggris minggu depan)

3. She willn't teach Mathematics in my school next mounth.
(Dia tidak akan mengajar matematika di sekolah saya bulan depan)

4. My father will not repair his car soon.
(Ayah tidak saya akan memperbaiki mobilnya segera)

5. He shall not cook a cake.
(Dia tidak akan memasak kue)


C. (?) : Will + S + V1

Exp :
1. Shall he go to my friend's house tomorrow?
(Akankah dia pergi ke rumah teman saya besok?)

2. Will they study english next week?
(Akankah ereka belajar Bahasa Inggris minggu depan?)

3. Will she teach Mathematics in my school next mounth?
(Akankah dia mengajar matematika di sekolah saya bulan depan?)

4. Will my father repair his car soon?
(Apakah ayah saya akan memperbaiki mobilnya segera?)

5.Shall he cook a cake?
(Apakah dia akan memasak kue?)

Sumber : InsyaAllah dari sumber yang terpercaya

Kaca Tak Pernah Berbohong

Kata orang cermin itu adalah sebuah simbol kejujuran. Dia tidak pernah berdusta apalagi berbohong. Cermin selalu menampilkan apa adanya, tidak ada sesuatu yang ditambah, apalagi dikurangi. Ketika kita berdiri di depan sebuah cermin, itulah gambaran kita yang sesungguhnya dan keadaan kita apa adanya.

Namun, mengapa setiap kali aku berada di depan sebuah cermin, baik itu pada saat menyisir rambut, atau hanya sekedar iseng melihat sekilas wajah diri sendiri, aku selalu merasa bahwa wajah ini semakin hari kok semakin jelek ya. Kata orang, aku ini “ganteng” menurut versi mereka. Tidak tahu apa yang mereka katakan itu jujur seperti kata cermin tadi, atau hanya sekedar membuatku “senang sesaat”.

Tidak terasa, wajah ini yang dulunya masih “lucu” dan “imut-imut”, sekarang berangsur menjadi tua. Kulit wajah ini yang dulunya masih putih bersih, sekarang berangsur menjadi warna sawo matang, karena saking matangnya, sampai-sampai warnanya agak “kehitam-hitaman”. Ternyata tidak terasa bilangan usiaku kini semakin hari semakin bertambah, dan jatah usiaku di dunia ini juga semakin berkurang. Aku bertambah menjadi tua.

Namun, sebenarnya aku merasa malu, karena di usiaku yang semakin tua ini, aku belum bisa menghasilkan dan memberikan apa-apa bagi agama, masyarakat, bangsa dan terutama bagi orang-orang yang selama ini kusayangi. Terkadang aku merasa bahwa diri ini tidak berarti bagi mereka.

Aku malu pada pohon pisang yang selalu menghasilkan buah sebelum mati. Sedangkan aku, yang tentunya kedudukan dan derajatnya tentu lebih baik dari pisang belum bisa menghasilkan apa-apa. Aku belum bisa memberikan sesuatu yang berarti bagi orang-orang yang aku sayangi, sehingga aku belum bisa membuat mereka bahagia, dan aku bahkan sering merepotkan mereka.

Wahai ibu, bapak, saudara, serta sahabatku semua, maafkan aku yang selama ini belum bisa membalas segala budi baik kalian apalagi membahagiakan kalian semua. Berilah aku waktu dan kesempatan untuk dapat membuktikan siapa diriku sebenarnya. Agar suatu saat nanti, aku bisa menjadi seorang yang pantas untuk kalian banggakan!